Ini Fakta Baru Kasus Raibnya Deposito Rp 65 Miliar Milik Nasabah BNI Makassar di Persidangan

Melati Bunga Sombe (MBS) kembali menjalani sidang lanjutan kasus pemalsuan bilyet deposito nasabah pada PT.Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk Cabang Makassar pada Selasa 29 Maret 2022.

Melati Bunga Sombe (MBS) kembali menjalani sidang lanjutan kasus pemalsuan bilyet deposito nasabah pada PT.Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk Cabang Makassar pada Selasa 29 Maret 2022.

MAKASSAR,DJOURNALIST.com – Melati Bunga Sombe (MBS) kembali menjalani sidang lanjutan kasus pemalsuan bilyet deposito nasabah pada PT.Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk Cabang Makassar pada Selasa 29 Maret 2022. Agenda sidang dengan Nomor Perkara 1846/Pid.B/2021/PN Mks yaitu pemeriksaan terdakwa MBS.

Berikut sejumlah kesaksian yang diungkapkan terdakwa MBS di sidang yang digelar di
Pengadilan Negeri Makassar

Dana Korban H,HTP,IMB Tercatat Dalam Sistem Bank

Terdakwa MBS mengakui telah bekerja di Bank BNI selama 20 tahun dan pernah menjabat sebagai pimpinan KK Pelabuhan Petikemas. Adapun korban H, HTP, IMB benar menjadi nasabah yang terdakwa kelola dan seluruh dana nasabah yang raib benar tersimpan dalam sistem Bank BNI.

“Saya bekerja selama 20 tahun di Bank BNI, pada tahun 2019 diangkat sebagai pimpinan KK Pelabuhan Petikemas. Dana nasabah H,HTP,IMB benar terdapat dalam sistem BNI yang ditransfer melalui RTGS dari bank lain. Saya selalu melakukan pelaporan kepada pimpinan wilayah Pak Agus Suyono terkait dana nasabah dan potensi nasabah untuk melakukan top-up (penambahan) simpanannnya di Bank BNI Makassar,”ujar MBS di persidangan.

Terdakwa Mengakui Membuat Bilyet Palsu

Pada jaksa penuntut umum (JPU), terdakwa MBS mengakui kesalahannya dalam
melakukan pemalsuan bilyet deposito yang diserahkan kepada nasabah.

“Benar saya mengakui kesalahan saya, telah mengcopy 4 lembar bilyet deposito, yang
kemudian saya serahkan bertahap kepada korban.”ujarnya.

Sejumlah Dana Korban Ditempatkan Pada Produk Investasi Bank BNI

Terdakwa MBS mengungkapkan dirinya mengiming-imingi korban dengan produk
dengan bunga tinggi dan simpanan para korban ditempatkan pada produk investasi yang
dikelola oleh Bank BNI. Hal tersebut terdakwa buktikan dengan adanya pengembalian
korban Hendrik melalui treasury Bank BNI senilai Rp 3,6 miliar. Treasury merupakan divisi Pada korban IMB, terdakwa menyatakan bahwa dana milik IMB telah dia gunakan senilai Rp 10 miliar, sedangkan sisanya senilai Rp 30-an miliar telah keluar dari rekening nasabah. karena pihak Bank BNI makassar tidak melakukan otorisasi dan callback (konfirmasi) atas transaksi penarikan nasabah. Terdakwa memohon pihak Bank BNI Makassar membuka ke persidangan jurnal transaksi harian pada waktu transaksi penarikan tersebut dilakukan.

Terdakwa Membantah Bukti – Bukti Oleh Bareskrim Polri

Terkait temuan rekening fiktif yang ditemukan pada pemeriksaan di Bareskrim Polri,
terdakwa MBS membantah bahwa dirinyalah yang melakukan pembukaan rekening
tersebut. Namun melimpahkan proses pembukaan rekening tersebut pada pihak
operasional Bank BNI.

“Saya menolak bukti-bukti yang dihadirkan oleh Bareskrim Polri. Adanya pembukaan
rekening yang disebut ‘fiktif’ dan penarikan dana korban adalah bukan saya yang
melakukan penghilangan dana nasabah karna saya tidak memilki wewenang secara
transaksional. Proses callback (konfirmasi) kepada nasabah adalah kesalahan
manajemen Bank BNI Makassar karena transaksi nasabah BNI Emerald adalah
wewenang pimpinan cabang terkait dan diketahui oleh pimpinan wilayah yaitu Pak Agus
Suyono” tambahnya.